#

Festival Literasi dan JIKN Jadi Ruang Perkuat Budaya Baca dan Akses Arsip Nganjuk

Nganjuk, PING – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Nganjuk memperkenalkan berbagai upaya penguatan budaya literasi sekaligus pemanfaatan arsip sejarah melalui Dialog Interaktif Dinamika Pagi 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM), Senin (5/10/2026). Dialog yang dipandu Host Etna Laila tersebut menghadirkan Pengolah Data dan Informasi Sischa Mardiana, serta Arsiparis Terampil Riko Yulistian, dengan tema Festival Literasi dan JIKN.

Dalam dialog tersebut, Sischa menjelaskan bahwa makna literasi saat ini tidak lagi sebatas aktivitas membaca buku. Literasi berkembang menjadi kemampuan menemukan, memahami, dan memanfaatkan informasi dari berbagai sumber, termasuk media digital. Menurutnya, perkembangan teknologi menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan wawasan masyarakat, sehingga penggunaan gawai dan media sosial perlu diarahkan pada kegiatan yang positif dan bermanfaat.

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Festival Literasi Volume 2 yang dijadwalkan berlangsung pada 8–10 Oktober 2026 di Gedung Wanita Kabupaten Nganjuk. Kegiatan ini melibatkan peserta didik mulai tingkat TK, SD, SMP, SMA, mahasiswa hingga masyarakat umum, dengan jumlah peserta sekitar 700 orang. Festival juga menghadirkan berbagai penampilan, stan karya lembaga dan UMKM, serta rangkaian kegiatan seperti Ngopi Literasi, workshop literasi, kegiatan mewarnai anak, dan workshop transformasi perpustakaan sekolah.

Sischa juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam membangun kebiasaan literasi di tengah tingginya penggunaan gawai. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Nganjuk turut memiliki kegiatan parenting bagi wali murid untuk memberikan pemahaman mengenai pendampingan anak dalam menggunakan teknologi dan media sosial. Selain itu, masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di WhatsApp maupun media sosial, terutama informasi yang berpotensi hoaks atau penipuan, sebelum melakukan verifikasi kepada sumber yang tepat.

Menurut Sischa, perpustakaan tetap memiliki peran penting di tengah kehadiran teknologi dan kecerdasan buatan (AI), terutama karena koleksi perpustakaan dapat menjadi rujukan informasi yang lebih terarah. Hingga 2026, Perpustakaan Daerah Kabupaten Nganjuk memiliki sekitar 50.000 eksemplar koleksi buku fisik dan sekitar 4.500 eksemplar buku elektronik. Koleksi tersebut mencakup bahan bacaan umum, buku pelajaran, novel, laporan, tesis, hingga buku referensi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Sementara itu, Riko Yulistian memperkenalkan Jaringan Informasi Kearsipan Nasional (JIKN) sebagai sarana untuk mengakses informasi arsip statis yang memiliki nilai sejarah. Melalui JIKN, masyarakat, mahasiswa, maupun peneliti dapat mencari berbagai arsip tanpa harus selalu datang langsung ke kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan. Arsip sejarah Nganjuk yang tersedia antara lain informasi mengenai perjalanan kelembagaan, Pemilu 1955, penemuan bersejarah, hingga arsip tokoh dan berbagai peristiwa masa lalu.

Pemanfaatan JIKN juga dinilai membantu mahasiswa dan masyarakat yang membutuhkan sumber sejarah untuk penelitian. Riko menyebut, JIKN telah memiliki pengunjung setiap bulan, dengan rata-rata sekitar 50–65 pengunjung. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Nganjuk juga terus menambah koleksi arsip statis yang dapat diakses masyarakat, sekaligus melakukan upaya penyelamatan dan restorasi terhadap arsip bersejarah yang mulai rusak. Selain JIKN, masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan perpustakaan keliling, program Dongkel Beras (Dongeng Keliling Bersama Anak Sekolah), layanan anak, hingga layanan membaca di ruang publik.

Menutup dialog, Sischa mengajak masyarakat menjadikan literasi sebagai bagian dari kebutuhan sehari-hari, bukan sebuah beban. “Jangan jadikan literasi itu adalah beban, tapi jadikan literasi itu adalah sebuah kebutuhan dan perjalanan tanpa batas,” pesannya. Sementara Riko menegaskan bahwa arsip merupakan bukti otentik dan terpercaya yang merekam berbagai kegiatan serta menjadi sumber fakta bagi generasi mendatang. Melalui Festival Literasi dan pemanfaatan JIKN, masyarakat diharapkan semakin kritis dalam memilih informasi, gemar membaca, serta semakin mengenal arsip sebagai sumber pengetahuan dan rekam perjalanan sejarah Kabupaten Nganjuk.