Peringati HUT ke-27 DWP, Pemkab Nganjuk Gelar Senam Bersama hingga Gerakan Pangan Murah
- 06-11-2026
Nganjuk, PING – Berada di kawasan cincin api (Ring of Fire) menjadikan gempa bumi sebagai sebuah keniscayaan geografis yang tidak dapat dihindari, melainkan harus disikapi dengan kesiapsiagaan yang matang dan rasional. Paradigma mitigasi tersebut dibedah tuntas dalam program dialog interaktif Dinamika Pagi di Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM), Selasa (6/10/2026).
Acara ini menghadirkan narasumber Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya BMKG Nganjuk, Sholakhudin Noor Falah, dengan dipandu oleh penyiar Reni Kristi. Dialog interaktif ini mengusung tema "Berdamai dengan Gempa Bumi".
PMG Madya BMKG Nganjuk, Sholakhudin Noor Falah, memaparkan bahwa konsep "berdamai" bukan berarti berpasrah tanpa tindakan, melainkan menerima kondisi alam secara ilmiah dan membekali diri dengan pengetahuan agar tidak panik saat guncangan terjadi. Ia menjelaskan Kabupaten Nganjuk diapit oleh dua sumber aktivitas seismik aktif, yakni zona subduksi lempeng megathrust di selatan Jawa serta jalur Sesar Kendeng di daratan bagian utara yang membentang dari Semarang hingga Surabaya melewati Nganjuk utara.
"Meskipun gempa di zona darat seperti Sesar Kendeng magnitudonya relatif lebih kecil dibanding megathrust, kedalamannya yang dangkal dan jaraknya yang sangat dekat dengan permukiman justru berpotensi menimbulkan dampak kerusakan yang lebih nyata. Sementara dari selatan, gempa berpusat di Pacitan pada Februari dan Juni 2026 lalu terbukti getarannya terasa nyata hingga Nganjuk pada skala intensitas II–III MMI," urai Sholakhudin.
Sholakhudin turut meluruskan perbedaan parameter gempa agar tidak membingungkan masyarakat. Magnitudo merupakan ukuran mutlak besaran energi yang dilepaskan di pusat gempa, sedangkan MMI (Modified Mercalli Intensity) mengukur dampak intensitas getaran subjektif yang dirasakan manusia atau permukaan tanah di tiap lokasi yang berbeda.
Menyoroti perilaku keselamatan saat gempa, Sholakhudin menegaskan bahwa sebagian besar korban luka atau jiwa bukan diakibatkan langsung oleh guncangan tanah, melainkan akibat tertimpa reruntuhan atap, dinding, kaca, maupun perabotan yang roboh. Oleh sebab itu, warga diimbau tidak langsung berhamburan lari ke luar pintu saat getaran awal terasa.
"Langkah penyelamatan standar internasional adalah Drop, Cover, and Hold On—segera merunduk, lindungi kepala dan tengkuk menggunakan tas, bantal, atau berlindung di bawah kolong meja yang kokoh, lalu pegang erat kaki meja. Jika sedang mengemudi, segera menepi secara perlahan ke tempat lapang yang jauh dari baliho, tiang listrik, pohon besar, maupun gedung bertingkat, lalu matikan mesin dan kunci kendaraan. Apabila getaran sangat kuat terasa di kawasan pesisir pantai hingga sulit berdiri selama lebih dari 20 detik, segera evakuasi mandiri ke tempat yang lebih tinggi tanpa menunggu peringatan dini tsunami," tegasnya.
Terkait maraknya pesan berantai di media sosial, BMKG memastikan hingga saat ini belum ada teknologi di dunia yang mampu memprediksi waktu, tanggal, lokasi, dan kekuatan gempa secara presisi. Masyarakat diminta mengabaikan informasi ramalan gempa yang mengatasnamakan pihak tertentu dan selalu merujuk kanal resmi aplikasi Info BMKG. BMKG Nganjuk juga membuka pintu edukasi kebencanaan serta simulasi gratis bagi sekolah-sekolah mulai jenjang TK hingga perguruan tinggi.
Di luar pembahasan gempa bumi, Sholakhudin menjelaskan fenomena cuaca terik menyengat di Nganjuk beberapa pekan terakhir yang dipicu posisi gerak semu matahari tepat berada di atas Pulau Jawa. Warga diimbau mencukupi asupan cairan, memakai pelindung diri seperti topi atau tabir surya (sunscreen), serta mengurangi aktivitas luar ruang yang tidak mendesak demi mencegah dehidrasi dan heat stroke.
Terkait musim penghujan 2026/2027, BMKG memprediksi masuknya awal musim hujan di Kabupaten Nganjuk mengalami kemunduran akibat pengaruh dinamika iklim kemarau panjang. Wilayah selatan dan lereng pegunungan seperti Kecamatan Loceret, Ngetos, Pace, dan Sawahan diprakirakan memasuki awal musim hujan lebih dulu pada dasarian ketiga November 2026, sedangkan sebagian besar wilayah lainnya baru beralih pada Desember 2026.
Masyarakat dan sektor pertanian diimbau menghemat pemakaian air bersih, menyesuaikan pola tanam, serta mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor saat puncak musim hujan tiba pada rentang Januari hingga Februari mendatang.