#

Membangun Keluarga Sakinah, Kemenag Nganjuk Ingatkan Pentingnya Komunikasi & Sikap Saling Memuliakan

Nganjuk, PING – Menjalin bahtera rumah tangga yang harmonis dan langgeng memerlukan fondasi spiritual yang kokoh serta kedewasaan emosional dalam menghadapi ragam dinamika kehidupan. Esensi membangun rumah tangga yang tenteram tersebut dikupas tuntas dalam program dialog interaktif Dinamika Pagi di Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM), Rabu (7/10/2026).

Disiarkan langsung dari studio RSAL FM di Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Nganjuk, acara ini menghadirkan narasumber Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Nganjuk, Ustadz Mahrus Thohir, dengan dipandu oleh penyiar Etna Laila. Dialog interaktif ini mengangkat tema "Membangun Keluarga Sakinah".

Ustadz Mahrus Thohir menerangkan bahwa konsep keluarga sakinah berakar dari firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Ar-Rum ayat 21, yakni terciptanya ketenteraman (litaskunu ilaiha) yang dilandasi cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). Ia menegaskan, sakinah bukan berarti rumah tangga yang bebas dari perselisihan, melainkan keluarga yang mampu menyikapi setiap ujian hidup secara bijak dan berpegang teguh pada tuntunan syariat.

"Pondasi paling utama adalah meluruskan niat menikah semata-mata karena Allah SWT untuk mencari rida-Nya, bukan sebatas memandang paras rupa atau materi duniawi yang sifatnya fana. Suami dan istri diciptakan dengan karakter berbeda layaknya sepasang sandal jepit—berbeda sisi kanan dan kiri, namun saling melengkapi untuk melangkah bersama," tutur Ustadz Mahrus.

Ia menyoroti pentingnya merawat komunikasi dua arah yang sehat dan pantang memendam kekecewaan hingga menjadi "bom waktu". Jika terjadi gesekan atau kesalahpahaman antarpasangan, Rasulullah SAW melarang mendiamkan pasangan lebih dari tiga hari; perselisihan harus segera diselesaikan lewat musyawarah dan saling memaafkan.

Ustadz Mahrus juga mengingatkan etika bermedia sosial di era modern. Pasangan suami-istri diimbau tidak mengumbar keluh kesah atau aib rumah tangga ke ranah publik (status/story medsos), melainkan saling menjadi pakaian yang menutupi kekurangan satu sama lain sebagaimana prinsip hunna libasul lakum wa antum libasul lahunna.

Terkait maraknya kasus perceraian yang kerap dipicu faktor ekonomi, ia berpesan agar pasangan mengedepankan kesabaran dan tidak tergesa-gesa melayangkan gugatan ke pengadilan agama. Perceraian merupakan pintu darurat paling akhir yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Jika menghadapi jalan buntu, pasutri disarankan melibatkan pihak penengah yang amanah atau keluarga besar untuk bermusyawarah secara dingin.

Menutup perbincangan, Ustadz Mahrus memotivasi para generasi muda yang telah matang secara usia untuk tidak diliputi rasa takut menikah. Menikah adalah ibadah panjang yang membuka pintu rezeki dan mendatangkan keberkahan, asalkan dijalani dengan niat ibadah, ikhtiar yang sungguh-sungguh, serta kesiapan untuk saling menguatkan di kala suka maupun duka.