Peringati HUT ke-27 DWP, Pemkab Nganjuk Gelar Senam Bersama hingga Gerakan Pangan Murah
- 06-11-2026
Nganjuk, PING – Festival Literasi Nganjuk 2026 tidak hanya mengajak masyarakat meningkatkan kebiasaan membaca, tetapi juga membuka ruang bagi warga untuk mengenali dan mengolah kekayaan daerah menjadi karya. Pesan tersebut disampaikan Wakil Bupati Nganjuk, Trihandy Cahyo Saputro atau yang akrab disapa Mas Handy, saat membuka Festival Literasi Nganjuk 2026, Kamis (8/10/2026).
Memasuki volume kedua, Festival Literasi Nganjuk digelar selama tiga hari, 8–10 Oktober 2026 di Gedung Wanita Nganjuk. Kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan tersebut menghadirkan pelajar, guru, penulis, komunitas literasi, hingga masyarakat umum.
Dalam sambutannya, Mas Handy mengajak para penulis dan pegiat literasi tidak hanya mengambil bahan tulisan dari isu yang sedang ramai, tetapi juga menggali cerita yang tumbuh di lingkungan sendiri. Menurutnya, Nganjuk memiliki banyak jejak sejarah dan potensi lokal yang dapat dikembangkan menjadi bahan literasi.

Ia mencontohkan penetapan Marsinah sebagai pahlawan nasional sebagai salah satu bagian penting dari perjalanan Nganjuk yang layak dikenalkan kepada generasi berikutnya. Kisah tersebut menunjukkan bahwa sejarah perjuangan tidak hanya berkaitan dengan tokoh-tokoh besar, tetapi juga dapat lahir dari masyarakat biasa.
Selain sejarah perjuangan, Wakil Bupati juga menyoroti temuan fosil Stegodon di kawasan Tritik. Temuan tersebut menjadi bagian dari jejak kehidupan masa lampau yang dapat memperkaya pengetahuan masyarakat mengenai sejarah alam di wilayah Nganjuk.
Mas Handy menjelaskan, jejak kehidupan purba yang ditemukan di kawasan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami perubahan lingkungan Nganjuk dari masa ke masa. Berbagai temuan fosil dan kondisi geologis tersebut menunjukkan bahwa wilayah Nganjuk menyimpan cerita alam yang panjang.

Menurutnya, kekayaan tersebut tidak cukup hanya disimpan sebagai informasi. Dengan kemampuan menulis dan mengolah informasi, sejarah serta potensi lokal dapat disampaikan dengan bahasa yang lebih dekat kepada masyarakat sehingga lebih mudah dipahami oleh generasi muda.
“Jangan sampai sejarah dan cerita tentang Nganjuk hanya diketahui oleh sebagian orang. Ini bisa menjadi bahan tulisan dan karya yang nantinya bisa dibaca oleh generasi berikutnya,” ujar Mas Handy.
Pesan tersebut sekaligus menjadi salah satu alasan workshop kepenulisan dalam Festival Literasi Nganjuk 2026 diarahkan pada penggalian potensi lokal. Workshop yang diikuti sekitar 100 penulis lokal tersebut diharapkan mampu menghasilkan gagasan orisinal dari para peserta.

Mas Handy berharap kegiatan workshop tidak berhenti pada pertemuan dan penyampaian materi. Ia mendorong agar ide yang muncul dari para penulis dapat mendapatkan pendampingan dan dikembangkan menjadi karya, termasuk buku yang memuat konten lokal Kabupaten Nganjuk.
Menurutnya, sebuah kegiatan literasi akan memiliki dampak lebih panjang apabila menghasilkan karya yang dapat dibaca dan diwariskan. Karena itu, keberadaan penulis lokal dinilai penting untuk merekam berbagai cerita, sejarah, pengetahuan, maupun kekayaan daerah dari sudut pandang masyarakat Nganjuk sendiri.
Melalui Festival Literasi Nganjuk 2026, Pemkab Nganjuk berharap semakin banyak cerita daerah yang terdokumentasi dalam bentuk tulisan. Dengan demikian, literasi tidak hanya menjadi aktivitas membaca, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenali identitas daerah dan meninggalkan pengetahuan bagi generasi mendatang.