#

Waspadai Gangguan Mata pada Anak, Dokter RSD Kertosono Minta Orang Tua Lebih Peka

Nganjuk, PING – Menjaga kesehatan mata di era modern menjadi tantangan tersendiri seiring tingginya intensitas paparan gawai (gadget), polusi jalanan, hingga penggunaan produk riasan di area mata yang kian populer. Pentingnya kewaspadaan dini terhadap fungsi penglihatan tersebut dibahas secara mendalam dalam program dialog interaktif di 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM), Selasa (13/10/2026).

Acara ini menghadirkan dokter spesialis mata dari Rumah Sakit Daerah (RSD) Kertosono, dr. Lanisa Hapsari, Sp.M, dengan dipandu penyiar Reni Kristi. Dialog interaktif ini mengangkat tema "Kenali, Periksa, Jaga: Mata Sehat Untuk Semua" sekaligus memperingati momentum Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day).

dr. Lanisa Hapsari menekankan bahwa mata merupakan salah satu indra vital yang kerap diabaikan masyarakat. Sering kali gejala awal seperti mata merah, gatal, kering, atau pandangan sedikit buram dianggap keluhan sepele, sehingga pasien baru memeriksakan diri saat fungsi penglihatannya sudah mengalami penurunan drastis.

Menyoroti kebiasaan harian, dr. Lanisa mengingatkan masyarakat mengenai dampak penggunaan gawai dalam durasi lama. Aktivitas menatap layar secara terus-menerus memicu kondisi mata lelah (asthenopia) dengan gejala pusing, mata berair, terasa pegal, dan mengganjal. Untuk mencegahnya, ia menganjurkan penerapan rumus 20-20-20, yakni setiap 20 menit menatap layar, istirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter). Selain itu, jarak pandang gawai dianjurkan 40–50 cm, tidak digunakan dalam ruangan gelap, serta menghindari penggunaan sambil berbaring.

Bagi orang tua, dr. Lanisa meminta agar lebih peka terhadap perilaku anak. Tanda-tanda gangguan refraksi (mata minus atau silinder) pada anak dapat dikenali jika anak kerap memicingkan mata saat melihat jauh, gemar menonton televisi dari jarak sangat dekat, posisi mata tampak tidak simetris (juling), atau sering menggosok mata karena tidak nyaman. Ia juga menganjurkan anak-anak memperbanyak aktivitas di luar ruangan (outdoor) agar mata terlatih melihat objek jarak jauh.

Terkait penggunaan kosmetik mata seperti maskara, eyeliner, hingga eyelash extension, dr. Lanisa mengingatkan pentingnya membersihkan sisa riasan secara menyeluruh sebelum tidur. Sumbatan sisa kosmetik pada kelenjar minyak di tepi kelopak mata dapat memicu radang, mata kering, hingga timbulnya benjolan bintitan (hordeolum). Bagi pengguna lensa kontak, kebersihan tangan dan wadah lensa wajib dijaga ketat serta dilarang keras dipakai saat tidur maupun mandi guna mencegah infeksi kornea yang berisiko kebutaan.

Dalam sesi tersebut, dr. Lanisa turut meluruskan mitos yang masih marak di masyarakat, salah satunya kebiasaan mencuci mata yang terkena kelilipan menggunakan rebusan air daun sirih. Ia menegaskan tindakan tersebut sangat berbahaya dan dilarang secara medis karena air rebusan sirih tetap rentan membawa bakteri maupun jamur yang justru dapat memperparah luka infeksi pada kornea.

Menutup dialog, dr. Lanisa mengimbau masyarakat untuk rutin memakai kacamata pelindung hitam berfilter UV saat beraktivitas di bawah terik matahari guna mencegah risiko pterigium (selaput daging) dan katarak dini. Warga juga diminta tidak membeli atau menggunakan obat tetes mata sembarangan tanpa resep medis, serta segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan atau poli mata RSD Kertosono jika mengalami keluhan penglihatan.