Peringati HUT ke-27 DWP, Pemkab Nganjuk Gelar Senam Bersama hingga Gerakan Pangan Murah
- 06-11-2026
Nganjuk, PING – Pemberdayaan perempuan bukan sekadar tentang seberapa banyak kaum hawa yang terserap di dunia kerja atau menghasilkan pendapatan mandiri, melainkan mencakup pemenuhan hak reproduksi yang sehat, kesempatan menempuh pendidikan tinggi, serta keterlibatan aktif dalam pengambilan keputusan publik. Kompleksitas indikator kesetaraan gender tersebut dibedah tuntas dalam program dialog interaktif Dinamika Pagi di 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM), Rabu (14/10/2026).
Acara ini menghadirkan dua narasumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nganjuk, yakni Statistisi Ahli Muda Rizqiyanti Ramadhani (Bu Kiki) bersama Statistisi Ahli Pertama Dyah Kusumaning Ayu (Bu Dyah), dengan dipandu oleh penyiar Etna Laila. Dialog kali ini mengangkat tema "Perempuan Berdaya dan Perkembangan Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Kabupaten Nganjuk Tahun 2025".
Statistisi Ahli Muda BPS Nganjuk, Bu Kiki, menjelaskan bahwa Indeks Ketimpangan Gender (IKG) merupakan instrumen statistik untuk mengukur kerugian capaian pembangunan akibat ketimpangan antara laki-laki dan perempuan. Berbeda dengan indeks pembangunan manusia (IPM) di mana angka yang semakin tinggi menunjukkan kinerja yang semakin baik, pada IKG target capaian justru harus semakin mendekati angka nol (semakin rendah semakin setara).
"IKG disusun atas tiga dimensi utama, yaitu dimensi kesehatan reproduksi, pemberdayaan, serta pasar tenaga kerja. Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis BPS, IKG Kabupaten Nganjuk tahun 2025 tercatat sebesar 0,391, mengalami sedikit kenaikan dibandingkan tahun 2024 yang berada di angka 0,351. Kenaikan angka indeks ini menunjukkan ketimpangan yang masih perlu ditekan bersama melalui perbaikan dimensi pembentuknya," terangnya
Statistisi Ahli Pertama BPS Nganjuk, Bu Dyah, membedah secara rinci variabel pembentuk IKG Nganjuk 2025. Pada dimensi pasar tenaga kerja, Nganjuk mencatatkan capaian yang sangat positif. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan melonjak pesat dari 47,82 persen pada tahun 2021 menjadi 60,43 persen pada tahun 2025 seiring masifnya penyerapan tenaga kerja perempuan di sektor industri dan perdagangan daerah.
Namun demikian, perbaikan signifikan di pasar kerja belum mampu menurunkan angka IKG secara agregat karena tertekan oleh dua dimensi lainnya:
1. Dimensi Kesehatan Reproduksi: Terjadi peningkatan proporsi perempuan usia 15–49 tahun yang melahirkan anak pertama hidup pada usia di bawah 20 tahun, yakni naik dari 0,171 (2024) menjadi 0,195 pada tahun 2025. Kondisi ini menandakan perkawinan anak dan persalinan di usia dini masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi kesiapan mental dan fisik remaja.
2. Dimensi Pemberdayaan: Proporsi keterwakilan perempuan di kursi legislatif (DPRD) Nganjuk periode 2024–2029 berada di angka 22 persen, mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 32 persen. Selain itu, persentase penduduk perempuan berpendidikan SMA ke atas sedikit terkoreksi dari 36,94 persen menjadi 33,67 persen pada tahun 2025.
"Ketika seorang perempuan melahirkan di bawah usia 20 tahun, potensi tumbuh kembangnya kerap terhambat; peluang melanjutkan kuliah atau mengasah keterampilan kerja terhenti karena harus fokus mengasuh anak. Oleh sebab itu, tingginya serapan kerja perempuan tidak otomatis menandakan tuntasnya ketimpangan tanpa diimbangi kesiapan reproduksi dan pendidikan berkelanjutan," papar Bu Dyah.
Menanggapi dinamika tersebut, BPS menegaskan bahwa target penurunan IKG merupakan tanggung jawab kolektif lintas instansi dan masyarakat luas. Kebijakan pencegahan dispensasi kawin anak, edukasi kesehatan reproduksi remaja di sekolah, serta pengawasan pola asuh gawai di lingkungan keluarga dinilai menjadi benteng utama perlindungan perempuan muda.
Menutup perbincangan, narasumber mengajak kaum perempuan di Nganjuk untuk tidak ragu melangkah, berani mengambil peluang pendidikan tinggi, dan aktif mengembangkan potensi diri. Para orang tua diimbau untuk memberikan kesempatan serta ruang bersuara yang setara antara anak laki-laki dan perempuan sejak dari lingkungan rumah demi terwujudnya kemandirian generasi masa depan Bumi Anjuk Ladang.