Peringati HUT ke-27 DWP, Pemkab Nganjuk Gelar Senam Bersama hingga Gerakan Pangan Murah
- 06-11-2026
Nganjuk, PING – Kepedulian terhadap warga yang terdampak kekeringan di Kabupaten Nganjuk terus mengalir dari berbagai pihak. Kali ini, Yayasan Universitas Brawijaya (UB) menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 34.000 liter untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di wilayah Kecamatan Jatikalen dan Kecamatan Lengkong.
Bantuan tersebut disalurkan selama dua hari, yakni pada 14–15 Oktober 2026, dengan menggunakan empat truk tangki. Masing-masing truk membawa sebanyak 8.500 liter air bersih yang kemudian didistribusikan ke sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air akibat mengeringnya sumber-sumber air selama musim kemarau.
Pada hari pertama, Rabu (14/10/2026), sebanyak dua truk tangki dikirim ke Desa Pule, Kecamatan Jatikalen. Masing-masing tangki diperuntukkan bagi warga di dua dusun, yakni Dusun Lengkong Geneng dan Dusun Tondowesi.
Penyaluran berlanjut pada Kamis (15/10/2026) di Dusun Sendang Gogor, Desa Ngepung, Kecamatan Lengkong. Di lokasi tersebut, dua truk tangki kembali didistribusikan dengan total volume 17.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga.
Kehadiran bantuan di Dusun Sendang Gogor turut ditinjau langsung oleh Ketua TP PKK Kabupaten Nganjuk, S. Wahyuni Marhaen. Peninjauan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan bantuan yang diberikan benar-benar diterima oleh masyarakat yang membutuhkan.
Pemerintah Kabupaten Nganjuk menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Universitas Brawijaya atas kepedulian dan kontribusinya dalam membantu masyarakat yang menghadapi dampak kekeringan. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi bentuk nyata solidaritas antarlembaga dalam merespons persoalan yang dihadapi masyarakat.
Kegiatan donasi ini sepenuhnya didukung dan dibiayai oleh Yayasan Universitas Brawijaya. Pelaksanaannya dikoordinasikan oleh Dr. Tibyani, M.T., S.Si., selaku CEO Tetenger Bumi Universitas Brawijaya, dengan pendampingan Dr. Sugeng Susilo Adi, M.Hum., M.Ed., Dosen Fakultas Ilmu Budaya UB, yang turut menangani pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Bagi masyarakat yang terdampak kekeringan, bantuan air bersih memiliki arti penting karena dapat langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi kemarau membuat sebagian warga harus menghadapi keterbatasan pasokan air dan mencari sumber air untuk kebutuhan rumah tangga.

Yayasan UB berharap bantuan tersebut tidak berhenti sebagai dukungan logistik, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan bersama untuk menumbuhkan semangat gotong royong dan solidaritas kemanusiaan. Kepedulian dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu masyarakat melewati masa sulit selama sumber air belum kembali normal.
Penyaluran 34.000 liter air bersih ini menjadi secercah harapan bagi warga Jatikalen dan Lengkong. Di tengah keterbatasan air akibat kemarau, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, yayasan, dan masyarakat menunjukkan bahwa persoalan kemanusiaan dapat dihadapi bersama melalui kepedulian dan aksi nyata.