Peringati HUT ke-27 DWP, Pemkab Nganjuk Gelar Senam Bersama hingga Gerakan Pangan Murah
- 06-11-2026
Nganjuk, PING – Semangat perjuangan ulama dan santri kembali digaungkan dalam Upacara Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2026 yang digelar di Alun-Alun Nganjuk, Kamis (22/10/2026). Upacara tersebut menjadi momentum untuk mengenang jasa para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan sekaligus meneguhkan peran santri dalam membangun masa depan bangsa.
Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi bertindak sebagai inspektur upacara. Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Nganjuk, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Nganjuk Ulum, jajaran Kementerian Agama, tokoh agama, tokoh masyarakat, jajaran Pemerintah Kabupaten Nganjuk, organisasi perempuan dan keagamaan, serta para santri dari berbagai lembaga pendidikan keagamaan di Kabupaten Nganjuk.
Dalam amanatnya, Bupati Marhaen mengajak seluruh peserta untuk menjadikan peringatan Hari Santri bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi sebagai kesempatan untuk kembali memahami perjalanan panjang perjuangan bangsa, khususnya kontribusi ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kang Marhaen sapaan akrabnya, mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 bukanlah akhir dari perjuangan. Setelah proklamasi, bangsa Indonesia masih menghadapi ancaman untuk kembali dikuasai oleh pihak asing. Dalam situasi tersebut, ulama dan santri turut mengambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan.
Menurutnya, salah satu tonggak penting dalam sejarah tersebut adalah lahirnya Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi tersebut menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa karena mampu membangkitkan semangat masyarakat, khususnya para santri dan pejuang, untuk mempertahankan kemerdekaan.
“Pada tanggal 22 Oktober 1945 ini menjadi tonggak perjuangan para santri dan alim ulama. Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy'ari menjadi momentum heroik yang membangkitkan semangat perjuangan dengan seruan Allahu Akbar untuk mempertahankan kemerdekaan,” ujar Kan Marhaen.
Ia menjelaskan, semangat yang lahir dari Resolusi Jihad kemudian turut menginspirasi perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Surabaya. Puncaknya terjadi pada 10 November 1945 ketika pecah pertempuran sengit yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.
Karena itu, Bupati menilai perjalanan sejarah tersebut menunjukkan bahwa santri tidak hanya memiliki peran di lingkungan pesantren, tetapi juga ikut menorehkan bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Nilai perjuangan tersebut, menurutnya, perlu terus diwariskan kepada generasi muda.

“Tidak hanya di pesantren, santri juga telah mencatatkan sejarah perjalanan bangsa ini. Resolusi Jihad menjadi salah satu bagian yang menginspirasi perjuangan bangsa hingga pecahnya pertempuran Surabaya pada 10 November 1945,” ungkapnya.
Memasuki era sekarang, Kang Marhaen menegaskan bahwa bentuk perjuangan telah mengalami perubahan. Jika para pahlawan dan santri terdahulu berjuang menghadapi penjajah secara langsung, generasi saat ini menghadapi tantangan yang lebih kompleks dalam mengisi kemerdekaan.
Ia mengutip pesan Bung Karno bahwa perjuangan pada masa kemerdekaan memiliki tantangan yang berbeda dengan perjuangan generasi sebelumnya. Musuh pada masa penjajahan dapat terlihat dengan jelas, sedangkan tantangan saat ini justru dapat muncul dari perbedaan di antara sesama anak bangsa.
Karena itu, Kang Marhaen mengajak para santri untuk tetap menjaga persatuan di tengah perbedaan. Perbedaan pandangan, menurutnya, merupakan hal yang wajar dalam kehidupan berbangsa. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh mengikis kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Berbeda itu biasa, tetapi NKRI harus kita pertahankan. Hari Santri juga menjadi momentum untuk menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air, termasuk kecintaan terhadap Kabupaten Nganjuk yang kita banggakan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Bupati Marhaen mengajak para santri untuk tidak berhenti menjadi generasi yang memahami sejarah, tetapi juga tampil sebagai generasi yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Santri diharapkan berani berkarya, berinovasi, dan mengambil peran sesuai dengan perkembangan zaman.
Hal tersebut sejalan dengan tema Hari Santri Nasional 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Menurut Kang Marhaen, tema tersebut mengandung pesan bahwa santri memiliki tanggung jawab untuk ikut mengisi perjalanan bangsa menuju satu abad kemerdekaan Indonesia pada 2045.

“Sekarang tugas santri semakin berat. Kita harus mengisi perjalanan bangsa sampai 2045. Ketika Indonesia mencapai 100 tahun kemerdekaan, apa yang kita peroleh dan apa yang telah kita isi harus menjadi bagian dari kontribusi generasi sekarang,” jelasnya.
Kang Marhaen menekankan, semangat perjuangan para ulama dan santri terdahulu harus diterjemahkan dalam bentuk perjuangan yang relevan dengan kebutuhan masa kini. Pendidikan, kreativitas, inovasi, persatuan, serta kecintaan terhadap daerah dan bangsa menjadi modal penting bagi santri untuk mengambil bagian dalam pembangunan.
“Sudah saatnya santri berkarya dan santri berinovasi. Santri harus mampu meneruskan perjuangan yang dahulu telah dilakukan para ulama dan para pejuang. Insyaallah perjuangan itu membawa berkah dan barokah,” pungkas Bupati Marhaen.