Peringati HUT ke-27 DWP, Pemkab Nganjuk Gelar Senam Bersama hingga Gerakan Pangan Murah
- 06-11-2026
Nganjuk, PING – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kabupaten Nganjuk tidak hanya menjadi momentum mengenang perjuangan para ulama dan santri, tetapi juga diisi dengan pembekalan keterampilan praktis. Salah satunya melalui program Santri Tani berupa Bimbingan Teknis Budidaya Sayuran Hidroponik yang digelar di Pendopo KRT Sosrokoesoemo, Kamis (22/10/2026).
Kegiatan tersebut diikuti 105 santri dan santriwati dari tujuh pondok pesantren yang tersebar di enam kecamatan. Masing-masing pondok pesantren mengirimkan 15 peserta untuk mendapatkan pemahaman mengenai teknik budidaya tanaman menggunakan sistem hidroponik.
Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Cahyo Saputro mengatakan, keterampilan pertanian menjadi salah satu bekal yang penting bagi santri untuk memperluas kemampuan di luar lingkungan pendidikan pesantren. Menurutnya, santri perlu memiliki wawasan yang beragam agar siap menghadapi kehidupan ketika nantinya kembali dan berbaur dengan masyarakat.

“Pemerintah daerah berusaha memberikan pelatihan, pendampingan, dan bantuan kepada rekan-rekan santri. Jangan merasa karena berada di dalam pondok kemudian tidak pernah keluar. Pemerintah tetap memperhatikan dan memberikan bekal agar santri memiliki skill yang lebih dan sudut pandang yang lebih luas,” ujar Mas Handy sapaan akrabnya.
Ia menyebut, Kabupaten Nganjuk memiliki karakter kuat sebagai daerah pertanian sehingga pengenalan teknologi budidaya kepada generasi muda menjadi langkah yang relevan. Hidroponik dipilih sebagai salah satu materi karena dapat diterapkan dengan memanfaatkan ruang yang tersedia di lingkungan pondok pesantren.
Menurut Mas Handy, bantuan yang diberikan kepada pesantren harus dipandang sebagai stimulan, bukan sebagai hasil akhir. Setelah memperoleh fasilitas dan pengetahuan awal, para santri diharapkan mampu mengembangkan budidaya tersebut secara bertahap sesuai dengan kemampuan dan potensi masing-masing.
“Ini stimulan pertama. Harapannya nanti yang diberikan dua bisa berkembang menjadi 20 atau bahkan 200 hidroponik. Setelah ini ada materi dari Dinas Pertanian, bagaimana cara merawatnya, mencari bibit, dan melakukan budidaya sehingga bantuan ini benar-benar bisa dimanfaatkan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk Ida Shobihatin menjelaskan, materi bimtek diberikan secara bertahap agar peserta memahami proses budidaya sejak awal hingga menghasilkan tanaman. Santri diperkenalkan dengan sistem hidroponik, persiapan sarana, penyemaian benih, pemindahan bibit, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit, sampai panen.
Pembekalan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan peserta yang hadir. Para santri diharapkan dapat meneruskan ilmu yang diperoleh kepada teman-temannya di pondok sehingga keterampilan budidaya dapat berkembang lebih luas di lingkungan masing-masing.
Selain menjadi keterampilan produktif, pengenalan hidroponik juga membuka wawasan santri terhadap penerapan teknologi dalam sektor pertanian. Cara tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pertanian dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih modern dan menyesuaikan kondisi lahan yang tersedia.

Mas Handy berharap santri mampu memanfaatkan berbagai program pemerintah sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri. Menurutnya, semakin banyak keterampilan yang dikuasai, semakin besar pula peluang santri untuk berkontribusi ketika berada di tengah masyarakat.
Melalui Santri Tani, Pemkab Nganjuk ingin membangun pengalaman baru bagi generasi pesantren bahwa pertanian dapat dipelajari secara modern, dikembangkan secara kreatif, dan dijadikan bagian dari bekal menuju kemandirian. Program tersebut sekaligus memperluas ruang belajar santri agar tidak hanya menguasai ilmu keagamaan, tetapi juga memiliki keterampilan yang aplikatif.