#

Gandeng Guru BK Cegah Kekerasan Anak, Mas Handy: Ciptakan Sekolah Aman dan Jangan Hakimi Korban

Nganjuk, PING – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk melalui Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menggelar kegiatan "Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Anak bagi Guru Bimbingan Konseling (BK)" di Ruang Rapat Anjuk Ladang, Selasa (22/9/2026). Forum strategis ini diikuti oleh jajaran guru BK jenjang SMP dan MTs se-Kabupaten Nganjuk guna menyatukan langkah serta persepsi dalam mendeteksi dini sekaligus menangani berbagai bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wakil Bupati Nganjuk, Trihandy Cahyo Saputro, atau yang akrab disapa Mas Handy. Dalam sambutannya, Mas Handy menegaskan komitmen Pemkab Nganjuk yang menaruh perhatian serius terhadap perlindungan perempuan dan anak di tengah maraknya kasus kekerasan belakangan ini. Ia mengajak para guru BK bertindak profesional dan menjadi garda terdepan sebagai tempat bercerita yang aman bagi para siswa.

Mas Handy membeberkan dinamika data penanganan kasus kekerasan anak di Kabupaten Nganjuk. Berdasarkan laporan resmi, tercatat 40 kasus pada 2024 dan 35 kasus pada 2025. Namun, hingga bulan Agustus tahun berjalan, angka laporan sudah menyentuh 39 kasus. Mas Handy mengingatkan bahwa kenaikan tren laporan ini didominasi oleh kasus kekerasan seksual serta perundungan (bullying) yang masih sangat rentan dialami peserta didik.

"Banyak sekali para korban itu merasa bahwa ketika mengalami kekerasan fisik maupun seksual, itu adalah suatu aib sehingga akhirnya dipendam. Oleh karena itu, saya minta bapak dan ibu guru BK harus profesional. Jika ada anak kita yang memberanikan diri untuk melapor, treatment-lah dia dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai dia malah merasa dihakimi atau merasa sendiri," ujar Mas Handy di hadapan para peserta sosialisasi.

Dampak dari kekerasan, lanjut Mas Handy, tidak sebatas luka fisik, melainkan juga trauma psikologis berkepanjangan yang merusak masa depan anak, mulai dari penurunan prestasi, enggan berangkat ke sekolah karena takut, hingga depresi berat. Ia menegaskan bahwa generasi muda Nganjuk harus dijaga dan dilindungi agar tumbuh menjadi generasi yang tangguh menyongsong Indonesia Emas 2045.

Guna mewujudkan lingkungan belajar yang kondusif, Mas Handy mendorong pihak sekolah melakukan langkah pencegahan konkret. Salah satunya melalui optimalisasi pemantauan visual dengan pemasangan kamera pengawas (CCTV) di titik-titik rentan di sekolah, terutama pada kegiatan di luar jam pelajaran formal. Langkah ini dinilai efektif untuk memantau aktivitas warga sekolah secara objektif dan mempermudah pembuktian jika terjadi dugaan pelanggaran.

Tak hanya pada ranah pencegahan, Pemkab Nganjuk juga memastikan pengawalan komprehensif dari sisi penanganan dan pemulihan korban. Pemkab Nganjuk telah membentuk kelembagaan khusus UPTD PPA serta membuka kanal hotline pengaduan yang terintegrasi langsung dengan pendampingan psikolog dari rumah sakit daerah dan aparat kepolisian bila masuk ke ranah hukum. Mas Handy berpesan agar penanganan kasus dilakukan secara tenang dan menjaga kerahasiaan demi melindungi psikis sang anak.

"Kita tidak ingin anak-anak didik yang kita sayangi masa depannya terganggu. Proses pemulihan korban itu panjang dan membutuhkan keilmuan serta empati. Kehadiran pemerintah daerah, kepolisian, dan bapak-ibu guru BK di sini adalah bukti nyata bahwa kita hadir bersama-sama melindungi anak-anak kita," pungkas Mas Handy menutup arahannya.