Peringati HUT ke-27 DWP, Pemkab Nganjuk Gelar Senam Bersama hingga Gerakan Pangan Murah
- 06-11-2026
Nganjuk, PING – Tim Penggerak PKK Kabupaten Nganjuk bersama Dinas Kesehatan memperkuat gerakan bersama dalam percepatan penanganan stunting melalui Gebrak Stunting. Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan berbagai sektor untuk memastikan anak yang membutuhkan intervensi mendapatkan penanganan sesuai kondisi masing-masing.
Kegiatan Sinergi Penanganan Stunting dengan PKAB dan Gebrak Stunting tersebut berlangsung di Ruang Rapat Candi Lor, Selasa (29/9/2026), dengan menghadirkan jajaran perangkat daerah, camat, TP PKK kecamatan, kepala puskesmas, rumah sakit, serta pihak terkait lainnya.
Ketua TP PKK Kabupaten Nganjuk S. Wahyuni Marhaen dalam pemaparannya menyampaikan bahwa persoalan stunting tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Menurutnya, dibutuhkan gerakan bersama dengan melibatkan unsur pemerintah, tenaga kesehatan, PKK hingga masyarakat agar intervensi dapat menjangkau keluarga sasaran secara langsung.

“Stunting ini menjadi urusan kita bersama. Karena itu, kita hadirkan semua pihak yang berkaitan, mulai dari puskesmas hingga perangkat daerah lainnya. Stunting harus kita gerebek bersama agar angka stunting di Kabupaten Nganjuk segera turun,” ujar S. Wahyuni.
Ia menjelaskan, berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, angka stunting di Nganjuk masih menjadi perhatian. Dari hasil identifikasi pada Agustus 2026, terdapat 4.149 balita yang teridentifikasi dalam kategori stunting maupun yang memiliki risiko terkait permasalahan pertumbuhan.
Dari jumlah tersebut, terdapat 404 anak yang membutuhkan penanganan khusus. TP PKK Nganjuk bersama Dinas Kesehatan kemudian mendorong adanya pemetaan berdasarkan kebutuhan masing-masing anak, sehingga intervensi yang diberikan tidak dilakukan secara seragam.
S. Wahyuni menyampaikan, anak-anak tersebut akan mendapatkan proses pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut melalui kerja sama dengan rumah sakit serta dokter spesialis anak. Hasil pemeriksaan nantinya menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan intervensi, sehingga penanganan dapat lebih tepat sasaran.
“Dari 404 anak ini nantinya akan dikelompokkan berdasarkan kebutuhan mereka. Kita bekerja sama dengan rumah sakit dan dokter spesialis anak untuk melihat apa yang sebenarnya dibutuhkan masing-masing anak, sehingga intervensinya bisa lebih tepat,” jelasnya.

Lebih lanjut, S. Wahyuni menegaskan bahwa faktor penyebab stunting bersifat multidimensi. Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan asupan gizi, tetapi juga kesehatan anak, sanitasi lingkungan, pola pengasuhan dan kondisi sosial keluarga. Karena itu, dalam Gebrak Stunting turut dilibatkan Dinas PMD, Dinas Pendidikan, Satpol PP, Dinas Sosial dan perangkat daerah lainnya.
Kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk memperkuat layanan di tingkat bawah. TP PKK berharap berbagai program dan layanan yang tersedia di desa dapat berjalan optimal sehingga kebutuhan anak dapat segera diketahui dan ditindaklanjuti, termasuk setelah anak menjalani pemeriksaan di rumah sakit.
Melalui Gebrak Stunting, TP PKK Kabupaten Nganjuk mendorong agar penanganan dilakukan secara terintegrasi, mulai dari identifikasi, pemeriksaan, pengelompokan kebutuhan hingga pendampingan. Dengan keterlibatan lintas sektor dan dukungan seluruh elemen, upaya percepatan penurunan stunting diharapkan semakin terarah dan mampu memberikan dampak nyata bagi tumbuh kembang anak di Kabupaten Nganjuk.