Peringati HUT ke-27 DWP, Pemkab Nganjuk Gelar Senam Bersama hingga Gerakan Pangan Murah
- 06-11-2026
Nganjuk, PING – Keberhasilan penanganan darurat bencana sangat ditentukan oleh kecepatan bertindak dan ketepatan distribusi bantuan logistik pada fase-fase awal kejadian. Strategi penyelamatan tersebut dikupas tuntas dalam program dialog interaktif Dinamika Pagi di 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM), Senin (2/11/2026).
Acara ini menghadirkan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk, Purwo Hadi Setiyo Wicaksono, dengan dipandu oleh penyiar Etna Laila. Dialog kali ini mengangkat tema "Dapur Logistik Bencana: Cerita di Balik 24 Jam Pertama Pascakejadian".
Orang yang akrab disapa Wicaksono tersebut menekankan bahwa kurun waktu 24 jam pertama pascakejadian merupakan golden time (waktu emas) yang sangat krusial dalam operasi kedaruratan. Pada rentang waktu inilah ketahanan fisik penyintas berada pada batas optimal untuk diselamatkan dan dievakuasi, sekaligus menjadi momentum penting pemenuhan kebutuhan dasar darurat seperti makanan siap saji, pakaian, selimut, dan tenda pengungsian.
"Logika tanpa logistik sama dengan kosong. Kami bisa merespons di lapangan, tetapi jika manajemen logistik dan peralatannya tidak memadai, penanganan tidak akan optimal. Karena itu, BPBD Nganjuk dengan dukungan penuh Diskominfo mengembangkan inovasi digital bernama Siaga Nganjuk (Sistem Informasi Analisis Geospasial Kebijakan Nganjuk). Aplikasi ini memuat fitur smart inventory untuk memantau stok, alur keluar-masuk barang bantuan, hingga masa kedaluwarsa logistik secara akurat," jelas Wicaksono.
Keunggulan lain dari aplikasi Siaga Nganjuk adalah fitur kaji cepat (rapid assessment) yang tetap berfungsi secara offline saat petugas berada di daerah terpencil tanpa sinyal (blank spot). Data laporan bencana akan tersimpan di memori perangkat dan otomatis tersinkronisasi ke server Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) saat mendapatkan jaringan. Keandalan sistem ini telah diuji saat operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lereng Gunung Wilis beberapa waktu lalu.
Menghadapi masa transisi menuju musim penghujan, BPBD Nganjuk menyiagakan personel Tim Reaksi Cepat (TRC) selama 24 jam penuh dalam sistem piket bergiliran guna memastikan Standar Pelayanan Minimum (SPM) penanganan darurat terpenuhi. Berdasarkan Kajian Risiko Bencana (KRB), sejumlah wilayah dipetakan sebagai titik rawan, meliputi potensi genangan banjir di Kecamatan Kota, Gondang, Sukomoro, dan Bagor, hingga ancaman tanah longsor di kawasan pegunungan lereng Wilis.
Sinergi lintas sektoral bersama Dinas PUPR, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Sosial, dan Damkarmat terus diperkuat, mulai dari normalisasi sedimen sungai, perbaikan tanggul darurat, hingga pemantauan pintu air Kali Kuncir. Warga diimbau aktif menjaga kebersihan saluran air, memangkas dahan pohon yang berpotensi tumbang, serta segera melapor jika melihat tanda-tanda kedaruratan melalui kanal Nganjuk Siaga 112, layanan Wadul Kang Marhaen, atau call center resmi Pusdalops BPBD Kabupaten Nganjuk.