Peringati HUT ke-27 DWP, Pemkab Nganjuk Gelar Senam Bersama hingga Gerakan Pangan Murah
- 06-11-2026
Nganjuk, PING – Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Dinas Pendidikan terus memperkuat upaya penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) dengan mengoptimalkan layanan pendidikan kesetaraan. Tidak sekadar memberikan kesempatan kembali belajar, upaya ini juga diarahkan untuk membangun karakter, kedisiplinan, dan motivasi peserta didik agar mampu menyelesaikan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Optimalisasi Penanganan Anak Tidak Sekolah melalui Penguatan Pendidikan Karakter pada Warga Belajar Kesetaraan Program Paket A, Paket B, dan Paket C di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kecamatan Nganjuk, Kamis (5/11/2026).
Kegiatan ini dihadiri Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Cahyo Saputro, Kepala Dinas Pendidikan Puguh Harnoto, Camat Nganjuk, kepala desa dan lurah se-Kecamatan Nganjuk, kepala SKB dan PKBM se-Kabupaten Nganjuk, serta calon warga belajar dari kalangan ATS.

Dalam laporannya, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk, Puguh Harnoto, menyampaikan bahwa pendidikan merupakan hak dasar setiap warga negara yang wajib dipenuhi tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, maupun kondisi kehidupan. Karena itu, pemerintah perlu memastikan seluruh anak memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh layanan pendidikan yang bermutu dan inklusif.
Ia menjelaskan, masih adanya anak yang belum pernah bersekolah, tidak melanjutkan pendidikan, maupun mengalami jeda belajar menjadi tantangan tersendiri bagi pembangunan pendidikan di Kabupaten Nganjuk. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan terpadu dengan melibatkan pendidikan formal maupun nonformal.
Menurut Puguh, pendidikan kesetaraan melalui Paket A, Paket B, dan Paket C menjadi salah satu solusi strategis untuk memberikan kesempatan kedua bagi anak-anak yang tidak dapat mengikuti pendidikan formal. Program ini memungkinkan peserta didik memperoleh layanan pendidikan yang lebih fleksibel sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing.

“Namun, penanganan anak tidak sekolah tidak cukup hanya dengan mengembalikan anak ke satuan pendidikan. Kita juga perlu memastikan mereka aktif mengikuti pembelajaran, memiliki motivasi belajar, serta mampu mengembangkan potensi dirinya,” jelasnya.
Ia menambahkan, penguatan pendidikan karakter perlu diintegrasikan dalam proses pembelajaran kesetaraan. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik diharapkan memiliki keimanan, akhlak mulia, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, serta semangat untuk terus meningkatkan kualitas diri.
Kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kualitas layanan pendidikan nonformal, mencegah peserta didik mengalami putus belajar kembali atau drop out, serta memperkuat sinergi antara Dinas Pendidikan, pengelola SKB dan PKBM, tutor, pemerintah desa dan kelurahan, hingga masyarakat dalam menjangkau anak-anak yang belum memperoleh pendidikan.
Puguh berharap seluruh pihak dapat mengambil peran aktif dalam mendukung keberhasilan program tersebut. Pendataan, pendampingan, dan koordinasi di tingkat desa maupun kelurahan menjadi bagian penting untuk memastikan anak-anak yang belum bersekolah dapat teridentifikasi dan memperoleh layanan pendidikan yang sesuai.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Cahyo Saputro juga memberikan arahan sekaligus motivasi kepada para calon warga belajar. Ia menekankan pentingnya pendampingan berdasarkan latar belakang persoalan masing-masing peserta, mulai dari keterbatasan ekonomi, kesehatan, hingga pengalaman pendidikan di lembaga yang belum memberikan ijazah formal.
Melalui optimalisasi pendidikan kesetaraan ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk berharap semakin banyak anak yang kembali memperoleh akses pendidikan, memiliki karakter positif, dan mampu menyelesaikan jenjang pendidikan yang ditempuh. Upaya tersebut sekaligus menjadi langkah untuk meningkatkan partisipasi pendidikan dan mencegah munculnya ATS baru di Kabupaten Nganjuk.