#

Cegah Ketergantungan Gawai, Disdik Nganjuk Gelar Lomba Permainan Tradisional Tingkat SMP/MTs

Nganjuk, PING – Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Dinas Pendidikan sukses menggelar ajang perlombaan tradisional bertajuk “Games Santri: Back to Culture 2026”, Sabtu (24/10/2026). Bertempat di Aula SMPN 2 Nganjuk, acara ini diikuti penuh antusias oleh para pelajar tingkat SMP dan MTs se-Kabupaten Nganjuk.

Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026 ini menghadirkan dua cabang permainan tradisional nusantara, yakni dakon (congklak) dan bakiyak bersarung.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk, Puguh Harnoto, menyampaikan bahwa acara ini mengusung semangat mengajak generasi muda kembali mengenali keasyikan permainan warisan leluhur di tengah pesatnya gempuran era digitalisasi.

"Alhamdulillah hari ini kita baru saja membuka kegiatan yang merupakan rangkaian dari peringatan Hari Santri Nasional 2026. Salah satunya kita mengajak anak-anak kita semuanya untuk kembali ke masa lalu, back to culture. Diharapkan mereka mengenal bahwa permainan-permainan tempo dulu itu sebenarnya jauh lebih asyik daripada mainan modern saat ini," ujarnya di sela-sela kegiatan.

Puguh menambahkan bahwa perlombaan ini tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan sarana edukasi yang mengasah kemampuan fisik, saraf motorik, strategi berpikir, kedisiplinan, hingga sportivitas kompetisi tanpa membedakan gender.

"Di dalam permainan tradisional ini melatih kedisiplinan, sportivitas, dan objektif dalam berkompetisi. Ada olahraganya, ada asah otaknya, serta saraf motoriknya. Dan ini bisa diikuti baik oleh laki-laki maupun perempuan," tambahnya.

Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan turut menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada segenap jajaran satuan pendidikan, termasuk Ketua MKKS dan para guru pendamping, atas partisipasi aktif seluruh peserta.

Melalui momentum Hari Santri Nasional 2026, Kadisdik berpesan kepada para pelajar sebagai generasi penerus bangsa agar terus membentengi diri dari pengaruh negatif eksternal di era serba digital. Melalui media permainan tradisional yang sederhana ini, anak-anak diajarkan arti penting kekompakan, kerja sama tim, dan kebersamaan.

"Anak-anak adalah next generation kita. Melalui media permainan yang sederhana ini, mereka bisa belajar banyak hal untuk masa depan mereka. Belajar bersama teman, menjaga kekompakan, bergerak aktif, dan membangun karakter yang kuat serta berdaya saing," pungkasnya.