Peringati HUT ke-27 DWP, Pemkab Nganjuk Gelar Senam Bersama hingga Gerakan Pangan Murah
- 06-11-2026
Nganjuk, PING – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membawa tantangan tersendiri dalam pola pengasuhan anak. Kondisi tersebut menjadi perhatian Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Nganjuk, dr. Widhi Nastiti Trihandy, saat memberikan materi “Parenting Sehat di Era Digital” dalam Resepsi dan Seminar Pendidikan Milad ke-29 IGABA, Senin (26/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Anjuk Ladang Pemkab Nganjuk tersebut mengusung tema “Mengukuhkan Peran Guru dalam Mewujudkan Guru PAUD Berkualitas Menuju Generasi Emas 2045”. Materi parenting menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan yang diikuti para guru KB, TK, dan TPA Aisyiyah se-Kabupaten Nganjuk.
dr. Widhi mengatakan, perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat sehingga anak-anak saat ini turut tumbuh dalam lingkungan digital sejak usia dini. Kondisi tersebut membuat orang tua dan guru perlu memiliki pemahaman yang baik agar teknologi tidak justru mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi, bergerak, belajar, dan berkembang secara optimal.

Menurutnya, salah satu tantangan yang perlu diperhatikan adalah paparan gadget sejak usia dini. Ia mencontohkan kebiasaan memberikan telepon genggam kepada anak ketika sedang makan atau rewel. Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat membuat anak lebih terbiasa dengan komunikasi satu arah dari layar dibandingkan interaksi langsung dengan orang di sekitarnya.
“Gadget itu membuat anak jadi speech delay. Sebenarnya mereka bukan tidak bisa ngomong, tetapi mereka tidak mau ngomong karena terlalu sering mendapatkan komunikasi satu arah dari HP,” jelas dr. Widhi dalam materinya.
Ia juga mengingatkan bahwa masa usia dini merupakan periode penting dalam tumbuh kembang anak. Karena itu, kebutuhan anak tidak cukup dipenuhi melalui stimulasi dari layar. Anak perlu mendapatkan nutrisi yang baik, tidur yang cukup, aktivitas fisik, serta stimulasi yang melibatkan pengalaman langsung melalui lingkungan di sekitarnya.
Dalam paparannya, dr. Widhi turut membahas dampak penggunaan gadget secara berlebihan yang dapat berkaitan dengan berbagai aspek perkembangan anak, mulai dari aktivitas fisik, konsentrasi, emosi, hingga kemampuan bersosialisasi. Anak yang terlalu fokus pada gadget, menurutnya, dapat menjadi kurang tertarik untuk berinteraksi dan bermain bersama teman sebayanya.

Untuk mengantisipasi penggunaan gadget yang tidak terkontrol, ia menyampaikan pentingnya penerapan aturan screen time dan pendampingan. Anak di bawah usia dua tahun, menurut rekomendasi yang ia sampaikan dalam seminar, tidak diberikan screen time, sedangkan usia dua hingga lima tahun dibatasi maksimal satu jam per hari. Untuk anak usia enam tahun ke atas, penggunaan perangkat digital perlu disertai pendampingan dan aturan yang jelas.
Lebih dari sekadar membatasi durasi, dr. Widhi menekankan bahwa orang tua harus menjadi teladan dalam menggunakan gadget. Orang tua juga perlu membangun kebiasaan tanpa gadget, seperti bermain bersama anak, membaca buku, berkomunikasi secara hangat, serta mendampingi anak ketika menggunakan perangkat digital.
“Orang tua perlu menjadi teladan dalam penggunaan gadget, buat aturan yang konsisten. Didampingi saat online, biasakan kegiatan tanpa gadget, bermain bersama, membaca buku, dan komunikasi hangat juga perlu dibiasakan,” tuturnya.
Selain orang tua, guru juga memiliki posisi penting sebagai mitra keluarga dalam memantau perkembangan anak. dr. Widhi mendorong para guru untuk mengamati perkembangan peserta didik dan menyampaikan kepada orang tua apabila terdapat hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian, sehingga stimulasi yang diberikan di sekolah dan di rumah dapat berjalan selaras.

Ia menilai komunikasi rutin antara guru dan orang tua menjadi bagian penting dalam membangun pola pengasuhan yang konsisten. Aturan yang diterapkan di sekolah idealnya dapat diperkuat di rumah, sehingga anak tidak menghadapi standar perilaku yang berbeda antara lingkungan sekolah dan keluarga. “Harus kerja sama antara guru dan orang tua,” tegasnya.
Menurut dr. Widhi, literasi juga perlu dibangun sejak dini melalui aktivitas membaca bersama. Membaca tidak hanya membantu meningkatkan kemampuan bahasa dan imajinasi anak, tetapi juga menjadi sarana membangun hubungan emosional antara orang tua dan anak. Ia mendorong kebiasaan membaca buku setidaknya 15 menit setiap hari.
Menutup materinya, dr. Widhi mengingatkan bahwa anak tidak membutuhkan orang tua maupun guru yang sempurna. Yang lebih penting adalah kehadiran orang dewasa yang peduli, mau mendampingi, serta terus belajar bersama anak dalam menghadapi perubahan zaman. Ia berharap para guru IGABA terus diberikan kesehatan dan kekuatan dalam mendidik anak-anak sebagai bagian dari persiapan menuju Generasi Emas 2045.